Sabtu, 05 November 2016

RIWAYAT BIOGRAFI CURICULUM VITAE IZZUDDIN BIN ABDUSSALAM

A.     Biografi Izzuddin bin Abdussalam
Izuddin bin Abdussalam nama lengkapnya  adalah Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim bin Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab, bergelar Izzuddin (kemuliaan agama). Ia berasal dari Maghribi, kelahiran Damsyik, menetap dan meninggal di Mesir, digelar Sultan al-Ulama oleh Ibn Daqiq al-Eid.[1]
Dilahirkan pada tahun 578 H. Mempelajari ilmu Usul Fiqh melalui al-Aamidi. Terkenal dalam bidang Fiqh, Tafsir dan Bahasa Arab. Beliau menjadi seorang tokoh hebat di zamannya, terutama berkenaan Syariah. Beliau sangat wara’ dan berani berhujjah menegakkan kebenaran.[2]
Gelar Izzuddin diberikan sesuai dengan adat pada masa itu. Setiap khalifah, sultan, pejabat, terlebih lagi para ulama diberi tambahan gelar pada namanya. Gelar ini nantinya lebih melekat dalam dirinya. Sehingga ia lebih dikenal dengan nama Izzuddin bin Abdussalam atau Al-Izz bin Abdussalam. Selain itu, ia juga digelari Sulthan Al-Ulama (raja para ulama) oleh muridnya, Ibnu Daqiq Al-id. Ini sebagai legitimasi atas kerja keras beliau menjaga reputasi para ulama pada masanya. Usaha itu diimplementasikan dalam sikap-sikapnya yang tegas saat melawan tirani dan kediktatoran. Beliaulah yang mengomandani para ulama dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.
Selama beberapa tahun ia menjabat qadhi di kota Damaskus. Namun, karena tidak sejalan dengan penguasa di kota itu, beliau hijrah menuju Mesir. Ia akhirnya bermukim di kota Kairo. Najmuddin Ayyub, penguasa kota saat itu, menyambut kedatangannya. Ia kemudian diangkat sebagai khatib masjid Jami’ Amr bin Al-Ash dan Qadhi di Kairo.
Banyak ulama yang memberikan sanjungan kepada Izzuddin. Tajudin As-Subki menyebutnya sebagai Syaikhul Islam wal Muslimin, salah satu imam terkemuka, sultanul ulama, imam pada masanya yang tidak ada duanya, penyeru kepada yang ma’ruf dan pencegah kemungkaran, orang yang memahami hakikat, rahasia, dan maqasid (tujuan) syariat.
     Ibnu Katsir menulis dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, “Al-Izzu adalah mahaguru mazhab dan pemberi mamfaat pada kelompoknya. Ia memiliki karya-karya yang fenomenal, menguasai mazhab, menghimpun banyak ilmu, memberi kontribusi yang berarti bagi murid-muridnya, aktif mengajar di madrasah-madrasah, berhenti kepadanya tongkat kepemimpinan As-Syafi’iyah, dan ia dimintai fatwa di berbagai daerah. Ia adalah orang yang lemah lembut, rupawan serta banyak mengutip syair.”
Salah satu muridnya, Syaikh Sihabuddin Abu Syamah mengatakan,”Ia adalah orang yang lebih layak menyampaikan khutbah dan memimpin shalat. Ia telah menghilangkan bid’ah yang dilakukan oleh para khatib, seperti mengetukkan pedang pada mimpar. Ia juga mencegah orang-orang melakukan shalat Raghaib dan Nisfu Sya’ban.”
Pada masa studinya Ia berguru kepada Syaikh Fahruddin bin Asakir, belajar ushul dari Syaikh Saifuddin Al-Amidi, belajar hadits dari Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Qasim dan Al-Hafizh Al-Kabir Abu Al-Qasim bin Asakir. Ia juga menimba ilmu dari Barakat bin Ibrahim Al-Kasyu’I, Al-Qadhi Abdusshamad bin Muhammad Al-Harastani, dan lain-lain. Demikian menurut Imam As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah.
Imam As-Subki juga menyebut sebagian murid-murid Imam Al-Izzu di antaranya: Ibnu Daqiq Al-Id, Imam Alaudin Abu Muhammad Ad-Dimyathi, dan Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Yusuf bin Masdi.
Dalam rentang kehidupannya izzuddin bin Abdussalam telah memberikan sumbangan pemikirannya yang sangat penting dalam keilmuan islam. Izzuddin Al-Husaini menilai Imam Al-Izzu sebagai tokoh sentral ilmu pada masanya yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Adapun menurut ulama lainnya, Imam Al-Izzu adalah Sultanul Ulama dan Syaikhul Ulama. Ia bagaikan lautan ilmu dan pengetahuan. Ia termasuk orang yang disebut “ilmunya lebih banyak daripada karyanya”. Di antara karya-karya beliau adalah:
1.      Al-Qawaid As-Shughra
2.      Qawaidhul Ahkam fi Masalihil Anam
3.      Al-Imamah fi Adillatil Ahkam
4.      Al-Fatawa Al-Misriyah
5.      Al-Fatawa Al-Maushuliyah
6.      Majaz Al-Qur’an
7.      Syajarah Al-Ma’arif
8.      At-Tafsir
9.      Al-Ghayah fi Ikhtishar An-Nihayah
10.  Mukhtasar Shahih Muslim dan lain-lain
Semoga Allah mensucikan ruhnya dan memberikan pahala yang sempurna kepada beliau atas amal dan jihadnya. Semoga kaum Muslimin memperoleh keberkahan ilmunya demi kejayaan Islam dan Muslimin.[3]


[1] Jamaluddin al-Isnawi, Tabaqat as-Shafiiyyah, tahqiq Abdullah al-Jabburi, Cetakan: Riyadh, Dar al-Ulum littibaah wanNasyr 1401H/1981M, j 2 ms 197-198, no 813.
[2] Tajuddin as-Subki, Tabaqat as-Shafiiyyah al-Kubra, j 8 ms 209, no 1183.
[3] bumisyam.com

AGAMA JAWI


E.     Perjumpaan Antara mistik Islam dan Mistik Kejawen sebagai Agama Jawi
Agami Jawi seperti yang disinyalir Koentjaraningrat sering disebut dengan Islam sinkretis. Yang dimaksud sinkretis secara umum adalah proses ataupun hasil dari pengolahan, penyatuan, pengkombinasian dan penyelarasan dua atau lebih sistem prinsip yang berlainan atau berlawanan sedemikian rupa, sehingga terbentuk suatu sistem prinsip baru, yang berbeda dengan sistem-sistem prinsip sebelumnya.[20] Dengan adanya proses sinkretis maka apa yang terkandung di dalam sebuah sistem prinsip baru tidak hanya terkandung sistem prinsip asli agama yang bersangkutan tetapi juga sistem prinsip dari unsur lain. Demikian juga yang terjadi dengan Agami Jawi.
Dengan kata lain, sikap sinkretis adalah Suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan benar salahnya sesuatu agama. Yakni suatu sikap yang tidak mempersoalkan murni atau tidak murninya suatu agama. Bagi orang yang berpaham sinkretis, semua agama dipandang baik dan benar. Penganut paham sinkretisme, suka memadukan unsur-unsur dari berbagai agama, yang pada dasarnya berbeda atau bahkan berlawanan.[21]
Karena terjadi proses penyelarasan maka pemeluk sistem prinsip yang baru hampir dapat dikatakan tidak mengalami ‘split personality’, sehingga tidak terjadi rasa bermusuhan. Bahkan yang terjadi adalah rasa aman karena para pemeluk sistem prinsip baru menemukan sesuatu yang lebih sreg dan cocok, terutama pada tingkat religuisitas yang tidak terlalu terikat dengan peraturan-peraturan baku. Dengan adanya sinkretisasi berbagai prinsip yang berbeda di dalam kelompok dalam suatu penafsiran baru yang lebih komprehensif justru kemudian dapat dipertemukan berbagai sistem ajaran dan pandangan yang berbeda dan mendapatkan tempat berpijak bersama untuk hidup berdampingan tanpa harus saling merendahkan.[22]
Sebuah religiusitas baru seringkali memang sulit diterima dalam kerangka ortodoksi yang sangat menekankan pada aturan-aturan baku. Dalam beberapa kasus, kemunculan sebuah varian religius lebih sering menampakkan kerinduan manusia akan kebuTuhan-kebuTuhannya yang paling dalam dan paling eksistensial yang tidak bisa dituntaskan dengan rumusan-rumusan doktrinal. Maka ciri yang paling menonjol dari sebuah religiusitas adalah lintas agama, lintas rasional dan lintas kelompok.[23]
Kemunculan Agama Jawi bukan proses yang berlangsung dalam ruang yang kosong. Tetapi proses ini terjadi di dalam sebuah logika dialektika budaya ketika satu prinsip bertemu dengan prinsip yang lain dalam dimensi sejarah. Proses dialektika akan selalu menghasilkan sintesis-sintesis baru yang kadang tak terduga atau tidak direncanakan sebelumnya. Faktor yang paling menonjol dalam proses sinkretis antara Islam dan tradisi Jawa sehingga menghasilkan agama Jawi dengan sendirinya juga datang dari kedua belah pihak.
Bentuk Islam mitis yang berkembang di Indonesia adalah faktor paling nyata sehingga memungkinkan proses tersebut. Sementara dari budaya Jawa, tradisi kepercayaan ruh dan benda-benda ghaib yaitu animisme dan dinamisme pada rakyat kebanyakan, dan tradisi Hindu-Budha pada kaum aristokrat kerajaan menjadi faktor kedua, yang seolah bertemu dalam satu titik kompromi paling landai ketika bertemu dengan Islam mitis.
Islam mitis atau Islam tasawuf bisa didefinisikan sebagai Islam yang lebih menekankan pada pemikiran dan praktik pencarian hubungan manusia dan Tuhan dengan cara-cara berpaling pada hal-hal duniawi dan lebih mengutamakan penghayatan dan kepasrahan pada Tuhan semata. Jalan untuk menuju pada sebuah kesempurnaan hubungan antara manusia dan Tuhan, dalam Islam mitis, didapatkan dengan melalui beberapa tingkat yaitu syariat, tarikat, hakikat dan ma’rifat. Syariat adalah hidup yang sesuai dengan hukum Allah. Tarikat adalah bentuk kepasrahan pada Tuhan secara sepenuhnya. Hakikat adalah tingkat di mana manusia hanya memperhatikan Allah semata-mata dan ma’rifat adalah tahap terakhir yaitu tahap kesempurnaaan.[24]
Secara historis, Islam yang mula-mula berkembang di Indonesia pada umumnya dan Jawa pada khususnya adalah Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia dan India melalui jalur perdagangan yang sangat kental dengan tradisi mistik.[25] Islam mitis lebih berorientasi pada dimensi esoteris (batin) dibanding dimensi eksoteris (lahir). Ini berbeda dengan Islam yang datang pada gelombang kedua yaitu Islam reformis yang dibawa oleh para haji yang pulang dari Makkah. Islam reformis sebagai bagian dari gerakan wahabi yang sangat populer di tanah Arab yang sangat menentang keras kepercayaan-kepercayaan yang dianggap sebagai tahayul, kurafat atau bid’ah. Bentuk Islam mitis lebih menampakkan wajah lunak ketika bertemu dengan agama lokal, yaitu tradisi agama asli (animisme dan dinamisme) dan Hindu-Budha.
Sebelum hadir agama-agama supra-nasional seperti Hindu, Budha, Islam, Katolik atau Kristen, bangsa Indonesia telah hidup dalam sebuah alam religius yang sering disebut dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Oleh J.W.M. Bakker, kepercayaan purba ini disebut dengan agama asli atau otokton. Agama ini disebut asli karena berasal dan berakar dalam tradisi dan kultur setempat yang tidak diketahui secara pasti kapan munculnya dan siapa pendirinya.[26]
Agama asli ini tidak memiliki sistem sejelas agama supra-nasional. Ia mengandung beberapa unsur ajaran mengenai prinsip teologis, eskatologis atau pun kosmologis. Namun demikian unsur-unsur bukan merupakan sistem ajaran yang ketat dan sistematis. Secara teologis kepercayaan ini mengajarkan keTuhanan etis, seperti yang maha baik, atau keTuhanan kosmis, seperti sangkan paraning dumadi. Secara kosmologis, kepercayaan ini mengajarkan tentang keseimbangan dunia mikrokosmos dan makrokosmos. Sedangkan secara eskatologis, kepercayaan ini memiliki ajaran tentang ruh aktif. Agama asli ini memiliki kekuatan yang relatif kokoh ketika berhadapan dengan agama-agama supra nasional. Bahkan agama asli ini tetap bisa eksis entah dalam bentuk sinkretisme, pemalsuan atau pemribumisasian agama-agama supra nasional.
Ketiga titik ini yaitu Islam mitis, agama asli, dan Hindu-Budha merupakan latar mosaik yang saling bertemu, saling pengaruh, saling mengambil yang kemudian melahirkan Agama Jawi sebagai bentuk Islam sinkretis yang mengambil posisi geografis terutama di daerah Jawa Tengah pedalaman. 
Dalam konteks sastra, pertemuan antara Islam mistik dan kepercayaan mistik pada rakyat kebanyakan menghasilkan kitab-kitab suluk dan primbon. Kitab suluk adalah suatu himpunan syair-syair mistik yang ditulis dalam bentuk macapat gaya mataram.[27] Kitab suluk adalah kitab yang di dalamnya banyak mengandung ajaran tasawuf. Kitab suluk menunjukkan usaha pengarangnya untuk menyatukan secara sinkretis ajaran-ajaran Islam, hukum Islam, dan tradisi kesusasteraan Islam dengan konsep-konsep teologi Hindu-Budha mengenai penciptaan alam, kematian, dan kehidupan setelah kematian, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Sedangkan Primbon adalah kitab yang bercorak kegaiban dan berisi ramalan-ramalan.
Sementara itu pertemuan Islam mitis dengan tradisi Hindu-Budha kerajaan Mataram menghasilkan serat. Serat adalah kitab yang berisi ajaran tasawuf yang dipadukan dengan mistik kejawen. Serat-serat biasanya berisi ajaran mistik-moral. Diantara serat yang terkenal adalah serat Wirid Hidayat Jati, serat Centhini, dan serat Cebolek. Serat juga merupakan bagian dari strategi kerajaan Mataram untuk beradaptasi dengan perkembangan Islam yang semakin gencar.

Perjumpaan Mistik Islam dan Mistik Kejawen


D.    Sejarah Perjumpaan Mistik Islam dan Mistik Kejawen
Antara mistik dan tasawwuf memang sangat dekat tasawwuf sering disejajarkan dengan mistisisme. Bahkan ada yang menyebutkan mistik islam kejawen. Tasawwuf merupakan bentuk mistik islam, yang berupaya agar hati manusia menjadi benar dan lurus dalam menuju Tuhan. [13] Tasawwuf adalah ajaran mistik yang diusahakan oleh segolongan umat Islam dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Ajaran tasawwuf disebut hakikat atau kesunyataan.
Tasawuf merupakan bentuk peningkatan moral untuk membersihkan batin. Tujuan tasawuf adalah mencapai ketentraman rohani. Melalui tasawuf budi pekerti manusia akan lebih halus. Tasawuf sejenis ini adalah tasawuf sunni, laku mistik yang mengarah pada pembentukan kepribadian. [14]
Tasawwuf lain yang berkembang adalah tasawwuf falsafi . Tasawwuf jenis ini lebih menitikberatkan aspek makrifat. Ajarannya ke arah insan kamil, melalui cara tarikat, yaitu riyadhah, mujahadah serta melepaskan diri dari hawa nafsu.[15]
Sasaran tasawuf adalah sampai kepada objek al-Haq (Tuhan) dan menyatu kepada Dia. Sasaran sufisme Islam seperti ini seringkali juga dimiliki oleh sufisme Jawa. Hal ini berarti ada titik temu antara paham sufistik dengan kejawen yang sama-sama kearah manunggal dengan Tuhan. Namun istilah manunggal ini, bagi Mulyono (1983:57) hanya diterjemahkan sebagai cara bagaimana manusi dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan.[16]
Penganut ajaran tasawwuf disebut sufi. Sufi artinya suci. Yakni, manusia-manusi yang selalu mensucikan diri dengan latihan-latihan kejiwaan atau batin. Sufi berasal dari kata “shafa” atau “shafwun” yang berarti bening. Hati orang-orang sufi selalu bening, karena ada kejernihan batin. Para ahli tasawwuf sebenarnya sejajar dengan istilah nimpuna dalam ajaran mistik Jawa. Yakni, manusia-manusia yang memiliki hikmah dalam hidupnya. Manusia-manusia yang melakukan ajaran tasawwuf tersebut berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan atau dalam bahasa mistik deebut  manunggaling kawulo Gusti.[17]
Dengan kata lain, tasawwuf dan mistik mempunyai titik temu yang jelas. Yakni sebagai upaya pendekatan diri kepada Tuhan. Jika tasawwuf juga mengandalkan pemusatan batin melalui meditasi, mistik juga merupakan ajaran atau kepercayaan bahwa pengetahuan tentang hakikat Tuhan bisa didapatkan melalui meditasi atau kesadaran spiritual yang bebas dari campur tangan akal dan panca indera. Dalam kaitan ini tujuan utama mistik atau tasawwuf adalah pencapaian “makrifat” yang tertinggi. Tarikat memiliki “maqam”, berupa  taubat, wara, zuhud, fakir, sabar, tawakkal, dan rela.[18]
Oleh karena itu, perjumpaan secara esoterik antara tasawuf dan mistik kejawen tidaklah mudah untuk ditolak.  Pemanfaatan secara bersama-sama antara buku primbon dan kitab mujarobat adalah bukti yang sulit dipisahkan. Baik tasawuf maupun mistik kejawen, kedua-duanya selalu menjalankan beberapa hal yang senada, antara lain 1) neptuning dino dan pasaran yang dihubung-hubungkan dengan rezki manusia, 2) perhitungan menyembuhkan orang yang sakit, 3) mantra dan do’a tolak bala’ dan seterusnya.[19]

MISTIK KEJAWEN


C.    Mistik Kejawen
Mistik kejawen adalah pelaku budaya Jawa yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.[8] Mistik kejawen merupakan perwujudan dari salah satu laku yang dilaksanakan oleh sebuah aliran kebatinan dan kepercayaan. Dengan kata lain mistik merupakan bagian dari jurus kebatinan dalam prektek cultural. Pandangan hidup masyarakat Jawa yang menganut aliran kebatinan serta laku mistik, akan menekankan pilar hidup pada ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan (harmoni), yang dilandasi oleh sikap menerima, sabar, awas eling (mawas diri), anoraga /andhap asor (rendah diri) dan prasaja (bersahaja).[9]
Mistik dan kebatinan memang sangat dekat. Bahkan menurut pemahaman kontemporer mistisisme juga berarti kebatinan. Ini berarti penganut aliran kebatinan dengan sendirinya merupakan pelaku mistik kejawen. Jika di dunia Barat mistisisme sering dipandang sebagai hal yang rahasia, di Jawa mistisisme sering dipandang sebagai hal yang sangat pribadi. Mistisisme adalah paham dan peradaban Jawa asli.[10]
Kejawen merupakan campuran (sinkretisme) kebudayaan jawa dengan agama pendatang, yaitu Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Diantara percampuran yang paling dominan adalah dengan Agama Islam. Menurut Soesilo Faham, Kejawen adalah percampuran agama Hindu, Budha-Islam. Meskipun berupa percampuran, namun ajaran kejawen masih berpegang pada tradisi-tradisi Jawa asli sehingga dapat dikatakan mempunyai kemandirian sendiri.[11]
Mistik kejawen sesungguhnya merupakan manifestasi agama Jawa. Agama Jawa adalah akumulasi praktik religi masyarakat Jawa. Dalam pandangan Geertz, agama Jawa memiliki tiga variasi, yaitu abangan, santri dan priyayi. Ketiga variasi ini memiliki sikap dan perilaku keagamaan yang berbeda satu dengan yang lain.[12] Namun Koentjaraningrat mengatakan bahwa manifestasi agama Jawa hanya identik kepada abangan saja. 

MISTIK ISLAM


B.     Mistik Islam
Dalam agama Islam, mistisisme diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam dan istilah sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain.[6] Seperti halnya agama lain, mistisisme Islam bertujuan membersihkan unsur-unsur batiniah manusia untuk mendapatkan kebersihan jiwa dari segala yang mengotorinya sekaligus berusaha untuk sedekat mungkin kepada Allah.
Islam mitis atau Islam tasawuf bisa didefinisikan sebagai Islam yang lebih menekankan pada pemikiran dan praktik pencarian hubungan manusia dan Tuhan dengan cara-cara berpaling pada hal-hal duniawi dan lebih mengutamakan penghayatan dan kepasrahan pada Tuhan semata. Jalan untuk menuju pada sebuah kesempurnaan hubungan antara manusia dan Tuhan, dalam Islam mitis, didapatkan dengan melalui beberapa tingkat yaitu syariat, tarikat, hakikat dan ma’rifat. Syariat adalah hidup yang sesuai dengan hukum Allah. Tarikat adalah bentuk kepasrahan pada Tuhan secara sepenuhnya. Hakikat adalah tingkat di mana manusia hanya memperhatikan Allah semata-mata dan ma’rifat adalah tahap terakhir yaitu tahap kesempurnaaan.[7]
Tujuan dari tasawuf itu sendiri ialah untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, menyatu dengan Tuhan dan seseorang itu menyadaria akan kehadirat Tuhan. Intisarinya ialah menyadari akan adanya Tuhan dapat berkomunikasi dan berdialog antara roh manusia dan Tuhan dan biasanya dilakukan dengan kontemplasi atau mengasingkan diri. Dan dalam islam kesadaran dengan Tuhan itu dapat juga dinamakan dengan ittihad yaitu bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Tasawuf adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana cara dan jalan seorang manusia supaya dapat lebih memdekatkan diri dengan Tuhan yaitu Alloh Swt .
Mistisisme ini muncul sebagai pemberontakan jiwa, dalam diri orang-orang yang benar-benar berpikiran ruhaniah, yang menentang formalitas agama dan juga kejumudan agama, yang selanjutnya terpengaruh oleh perasaan bahwa manusia bisa menjalin sebuah hubungan langsung dengan Tuhan, yang tidak boleh dianggap sebagai Dzat Penguasa Penuh Kuasa yang berjarak atas takdir-takdir manusia, tetapi sebagai Sahabat dan Kekasih Jiwa. Kaum mistikus memiliki hasrat mengenal Tuhan, sehingga mereka bisa mencintai-Nya, dan telah percaya bahwa jiwa dapat menerima: wahyu Tuhan, melalui sebuah pengalaman religius langsung – bukan melalui indera-indera atau kecerdasan – dan, dengan cara ini, memasuki keintiman dengan-Nya.
Mereka percaya bahwa manusia dapat memiliki pengalaman ini, pastilah ada dalam dirinya satu bagian dari Sifat Ilahiah, bahwa jiwa diciptakan untuk mencerminkan Kemegahan Tuhan, dan segala sesuatu ambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Tetapi kaum mistikus mengajarkan bahwa tak satu jiwa pun memiliki pengalaman langsung dengan Tuhan, kecuali dengan penjernihan dari dalam diri; pembersihan jiwa dari kecintaan pada diri sendiri dan dari hawa nafsu adalah bagian mendasar bagi mereka yang hendak mencapai Kebajikan dan Penglihatan Tuhan, demi kesempurnaan Kehidupan Abadi, yang mereka percaya dapat dicapai sekarang, adalah untuk melihat Tuhan dalam Dzat-Nya. Keakuan dapat ditaklukkan dengan dukungan sebuah cinta yang lebih besar daripada kecintaan-diri, dan karenanya kaum mistikus telah menjadi kekasih-kekasih Tuhan, yang mencari penyempurnaan cinta mereka dalam penyatuan dengan Sang Kekasih.

KONSEP MISTIK

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Mistik
Menurut asal katanya, mistik berasal berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap, atau terselubung dalam kekelaman. Dalam buku De Kleine W.P. Encylopaedie (1950) karya G.B.J. Hiltermann dan Van De Woestijne, kata mistik berasal dari bahasa Yunani myein yang artinya menutup mata. Kata mistik sejajar dengan kata Yunani lainnya musterion yang artinya suatu rahasia. Paham mistik dilihat dari segi materi ajarannya dapat dipilah menjadi dua, yaitu paham mistik keagamaan, yang terkait dengan Tuhan dan keTuhanan, dan paham mistik non-keagamaan, yang tidak terkait dengan keTuhanan.
Dalam kata mistik itu terkandung sesuatu yang misterius, yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Mistik telah disebut sebagai “arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama.” Dalam artinya yang paling luas, mistik bisa didefenisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan tunggal – yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.[5]
Namun, defenisi-defenisi semacam itu hanya sekadar petunjuk saja. Sebab kenyataan yang menjadi tujuan mistik, dan apa yang tak terlukiskan, memang tidak bisa dipahami, dijelaskan dan diungkapkan dengan cara persepsi apapun; baik filsafat maupun penalaran logis. Hanya kearifan hati, gnosis, ma`rifah, yang bisa mendalami beberapa di antara seginya. Diperlukan sebuah pengalaman rohani yang tidak tergantung pada metode-metode indera dan fikiran. Begitu si pencari memulai perjalanannya menuju kenyataan akhir ini, ia akan dibimbing oleh cahaya batin. Cahaya itu akan semakin terang ketika ia membebaskan diri dari keterikatannya dengan dunia atau, seperti kata para sufi; menggosok cermin jiwanya sampai mengkilap. Hanya setelah masa pemurnian yang lama – yang dalam mistik Kristen disebut via purgativa – si pencari bisa mencapai via iluminativa, tempat di mana ia diberkati cahaya dan kearifan. Dari sana ia bisa mencapai sasaran akhir pencarian mistik, yakni unio mystica atau via unitiva. Hal ini bisa dihayati dan diungkapkan sebagai perpaduan cinta, atau sebagai visio beatifica, yakni tempat jiwa menyaksikan segala yang diluar jangkauan penglihatan, diliputi oleh cahaya Tuhan. Hal ini bisa digambarkan sebagai penyingkapan cadar ketidaktahuan, cadar yang menutupi ciri-ciri dasar Tuhan dan makhluknya, yang dalam istilah tasawuf disebut kasyaf, mukasyafah. 
Dari pengertian mistik di atas, dapat diketahui bahwa mistik bersifat universal, terdapat di semua agama, bersifat rahasia dan sulit dicermati secara ilmiah. Khusus dalam Islam, paham mistik disebut tasawuf atau sufisme. Tasawuf yang berkembang di Indonesia telah mengalami perkembangan dan pada sebagian ajarannya telah dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan pra-Islam dan ajaran Hindu-Budha. Paham semacam ini disebut sebagai Islam kebatinan. Paham ini melakukan sinkretisme antara ajaran tasawuf dengan ajaran kebatinan di luar Islam. Di Indonesia, paham Islam kebatinan ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam aliran-aliran kepercayaan dan kebatinan. Pada perkembangannya, aliran-aliran tersebut kelihatan sudah jauh meninggalkan ajaran Islam yang murni, bahkan hampir tidak ada kaitan sama sekali dengan ajaran Islam.

TINJAUAN UMUM TENTANG MASLAHAH


Syariat Islam dibuat untuk menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia dan menghindarkan merekadari kerusakan. Ini adalah kaidah yang agung, dengannya Rasulullah menutup segala pintukerusakan dan bahaya. Maka, tidak ada syariat kecuali didalamnya ada maslahat. Maslahat dalam Islam landasannya adalah petunjuk syara’, bukan semata berdasarkan akal manusia.[1]
Menurut Ibnu Mandzur kata maslahah berasal dari kata shalaha yang berarti baik, antonim dari kata fasada (rusak). Ia adalah masdar(bentuk kata benda) dari kata shalaha yang ditambah  alif didepannya(ashlaha). Maslahah adalah bentuk tunggal dari kata mashalih, yang bermakna shalah yaitu manfaat atau lawandari kerusakan, dan istishlah antonim dari istifsad.[2]
Maka sebagaimana dikatakan oleh Al Buthi bahwa kata maslahah sama dengan kata manfaat dari sisiwazan (timbangan) dan makna. Dan setiap apapun yang mengandung manfaat, berupa mendatangkan faedah dankenikmatan atau berupa perlindungan seperti menjauhkan dari bahaya atau rasa sakit, semua itu pantas disebut dengan maslahah.
Imam Al ghozali menjelaskan bahwa menurut asalnya maslahah itu berarti sesuatu yang mendatangkan manfaat (keuntungan) dan menjauhkan mudarat (kerusakan), namun hakekat dari maslahah adalah memelihara tujuan syara’ dalam menetapkan hukum. Sedangkan tujuan syara’ dalam menetapkan hukum itu ada lima, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.
Al Khawarizmi memberikan definisi yang hampir serupa dengan definisi al ghozali di atas, yaitu: memelihara tujuan syara’ (dalam menetapkan hukum) dengan cara menghindarkan kerusakan dari manusia.[3]
Menurut Yusuf Hamid maslahah adalah implikasi dari suatu tindakan atas dasar ketentuan-ketentuan syar’i yang mendorong terwujudnya maksud syari’ dalam pembuatan hukum guna mendapatkan kebahagiaandunia dan akhirat.  Yang terakhir definisi dari Asy syatibi. Beliau mendefinisikan maslahah dari dua sudut pandang, yaitu dari segi terjadinya maslahah dalam kenyataan dan dari segi tergantungnya tuntunan syara kepada maslahah. Dari segi terjadinya maslahah dalam kenyataan, berarti: sesuatu yang kembali kepada tegaknya kehidupan manusia serta kesempurnaan hidupnya, tercapai apa yang dikehendaki oleh sifat syahwati dan aklinya secara mutlak, sehingga dia merasakan kenikmatan.[4]




[1] Amir syarifudin, Ushul Fikih, (Jakarta; Kencana Prenada Media Group, Cet 5, 2009 M) Vol. 2.. Hal. 326
[2] Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, (Kairo: Darul Maarif ) Hal. 2479-2480.

[3] mam Muhammad Bin Ali Asy Syaukani, Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haqmin Ilmil Ushul tahqiq Abu Hafs Saami Al Asary, (Riyadh: Darul Fadhilah, cet 1, 2000 M/1421 H) Vol. 2 Hal 990.
[4] Asy syatibi,  Al Muwafaqat fi Ushul Asy Syariah, (Beirut: Dar Ibnu Affan, Cet 1, 1997 M/1417 H) ,44

contoh SURAT GUGATAN PERCERAIAN

SURAT GUGATAN PERCERAIAN Kepada Yth: Bapak/Ibu Ketua Pengadilan Negeri/Agama [...................] Di Tempat Dengan hormat ...